Berita

SMA Negeri 1 Kutasari Terapkan Treatment Mengaji bagi Peserta Didik yang Terlambat

Kutasari – SMA Negeri 1 Kutasari menerapkan kebiasaan baru dalam menangani peserta didik yang datang terlambat ke sekolah. Jika sebelumnya penanganan keterlambatan hanya berupa penandatanganan buku keterlambatan dan pembinaan secara bersama-sama, kini sekolah mengubah pendekatan tersebut dengan treatment edukatif dan religius berupa kegiatan mengaji.

Treatment ini dilaksanakan dengan pendampingan langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Kutasari, Ibu Kurnianingsih, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, serta guru piket. Peserta didik yang terlambat diminta membaca Al-Qur'an secara bergantian, hafalan surat-surat pendek hingga praktik bacaan shalat.

Kepala SMA Negeri 1 Kutasari, Kurnianingsih, S.Pd. yang akrab disapa Bu Nia, menjelaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan kesepakatan sekolah yang telah dibangun sebelumnya oleh seluruh warga sekolah, di mana setiap pelanggaran memiliki konsekuensi yang jelas.

“Dalam kesepakatan sekolah, kami memiliki sistem tier. Tier 1 diterapkan ketika peserta didik terlambat sebanyak tiga kali. Namun kami tidak menginginkan anak-anak sampai ke tier tersebut, sehingga kami melakukan antisipasi sejak awal melalui sosialisasi dan pendampingan,” ujar Bu Nia.

Lebih lanjut, Bu Nia menjelaskan bahwa dalam treatment ini guru tidak hanya memberikan konsekuensi, tetapi juga menggali penyebab keterlambatan peserta didik. Anak-anak diajak berbincang dari hati ke hati untuk mengetahui kendala yang mereka alami serta mencari solusi agar keterlambatan tidak terulang.

“Kami tanyakan apa penyebabnya dan apa yang bisa kami bantu. Sekalian kami ajak mengaji agar mendapat pahala, berefleksi, dan merencanakan langkah konkret supaya tidak datang terlambat lagi. Anak juga diminta merencanakan apa yang harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.

Menurut Bu Nia, kegiatan mengaji ini bukan sekadar hukuman, melainkan bagian dari proses pembinaan karakter. Selain membuka kesempatan untuk beribadah, kegiatan ini menjadi sarana refleksi diri dan tindak lanjut pembentukan kedisiplinan.

Dalam pesannya, Bu Nia menekankan bahwa kedisiplinan merupakan karakter wajib yang harus dimiliki setiap individu, termasuk untuk bekal di dunia kerja.

“Kedisiplinan itu karakter penting. Di dunia kerja, perusahaan tidak lagi mengajarkan disiplin, tetapi mencari orang yang sudah memiliki karakter tersebut. Sekolah menjadi tempat untuk melatih karakter disiplin. Jangan disiplin karena takut pada guru, tetapi jadikan disiplin sebagai karakter yang mendarah daging agar siap pakai di dunia kerja,” pungkasnya.

Dengan treatment baru ini, SMA Negeri 1 Kutasari berharap dapat menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta spiritualitas kepada peserta didik secara lebih bermakna dan berkelanjutan.